Desa Karyamekar, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut adalah tempat tinggal seorang petani kopi berpengalaman, Pak Ajang (55), yang telah menekuni dunia pertanian kopi sejak tahun 2014. Dengan semangat dan dedikasi, Pak Ajang bersama kelompok tani hutan yang beranggotakan 40 orang menanam berbagai jenis tanaman, termasuk kopi, di lahan mereka.
Perjalanan Awal dan Teknik Penanaman
Pak Ajang memulai usahanya sebagai petani kopi setelah mengikuti pelatihan tentang tata cara penanaman. Ilmu yang diperolehnya dari pelatihan tersebut menjadi bekal penting untuk merawat 3.000 pohon kopi jenis Sigaruntang. Jenis kopi ini dipilih karena sangat cocok dengan ketinggian wilayah di Desa Karyamekar.
Untuk memastikan kualitas kopi tetap terjaga, Pak Ajang melakukan perawatan intensif, seperti pengobatan tanaman dua kali setahun, yaitu sebelum musim kemarau dan sebelum musim hujan. Hal ini dilakukan untuk menjaga pohon kopi dari serangan hama dan penyakit.
Proses Panen dan Penjualan
Panen dilakukan setiap 2-3 minggu sekali, tergantung pada kondisi cuaca. Setiap pohon dapat menghasilkan 15-20 kg ceri kopi, dengan hasil terbaik diperoleh pada musim kemarau. Sebaliknya, musim hujan kerap memengaruhi kualitas dan jumlah panen.
Hasil panen kopi berupa ceri langsung dijual kepada pembeli, baik yang datang langsung ke lokasi maupun yang diantarkan oleh Pak Ajang. Meski saat ini Pak Ajang belum mampu mengolah kopinya sendiri, ia tetap bersemangat untuk meningkatkan nilai jual produknya di masa depan.
Tumpangsari dan Kendala yang Dihadapi
Selain kopi, lahan yang digarap Pak Ajang juga ditanami berbagai tanaman tumpangsari, seperti sawi putih dan kentang. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan produktivitas lahan dan sebagai sumber penghasilan tambahan. Namun, tantangan tetap ada, terutama saat musim kemarau, ketika tanaman rentan terhadap serangan hama seperti strip atau bereng.
Harapan untuk Masa Depan
Pak Ajang memiliki harapan besar untuk masa depan usahanya. Ia ingin hasil panen kopinya tidak hanya dijual dalam bentuk ceri, tetapi juga diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani kopi di wilayahnya.
Pak Ajang adalah contoh nyata semangat petani lokal yang terus berjuang untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas pertanian kopi di Indonesia